"About The Time"
24 jam, 365 hari, itu cuma satuan. Tapi coba kita sedikit lebih akrab dengan waktu. Bukan cuma di lihat dari sisi mekanisnya saja, tapi dari sisi yang lebih pribadi. Kalau kata Einstein, waktu itu seperti karet, elastis. Ada 3 perspektif disini. Pertama, waktu yang mekanis. Tik-tok tik-tok, jam di dinding. Kedua, waktu yang relatif. Dan ketiga, waktu yang ilusif. Bertolak dari premis bahwa waktu itu tidak ada. Jadi pertama adalah kemarin dan kemarin adalah ilusi., tahun lalu cuma ilusi, hari ini juga ilusi. Generator acak ini bisa kita rasakan waktu kita benar-benar bangun dari tidur. Kosong, dan tidak ingat apa-apa. Sampai akhirnya corteks membanjiri kita dengan berbagai informasi, mengingat nama kita siapa, sejarah kehidupan kita bagaimana, hartamu apa saja, dsb.
Kita ingat waktu kosong itu, cepat sekali. Kurang dari satu detik. Waktu adalah konsep hasil terjemahannya korteks. Dan ingat, otak kita melakukannya di bawah sadar, semacam servis cuma-cuma. Karena kita tidak sanggup mengerti arti keos yang sebenarnya. Yaitu? Kekekalan, dan korteks menerjemahkannya maenjadi masa lalu, masa sekarang, masa depan. Mati dan hidup tak lebih dari sekedar pengalaman.
Waktu adalah catatan penunjang dari suksesi alam. Tapi lucunya konsep waktu di munculkan manusia di level pikiran, bukan fisik. Sel sendiri tidak mengenal konsep waktu. Tanpa ada sangkut pautnya dengan hitungan detik.Manusia sendirilah yang mengadakan linearitas waktudan setuju untuk mengikutinya. Masa lalu, masa sekarang, masa depan, sesungguhnya hanya satu gerakan tunggal, yaitu "kekekalan". Nah kalau masa depan cuma ilusi, bagamana dengan ramalan, clairvoyance, horoskop, dan sejenisnya itu?
Dalam kekekalan hadir segala-galanya. medan matriks yang tak terhingga berisi segala probabilitas dan potensi. Namun kita menjalaninyadengan tendensi. Tendensimu akan memanifestasikan potensi tertentu. Tidak ada kemutlakan.Tapi pointnya adalah potensi yang termanifestasi dan tidak, nilainya sama-sama saja. Tidak menjadikan yang satu lebih penting daripada yang lain. Itulah dahsyatnya "kekekalan".

0 komentar:
Posting Komentar